(untuk anak-anakku)
Anakku, percayalah hanya atas pertolongan Tuhanlah hadir keberhasilan, hadir kemenangan. Kita bisa berusaha terbaik, kita bisa berjuang maksimal, tapi hasilnya hanya tergantung Tuhan semata.
Kita harus belajar keras, kita harus berjuang keras; tapi itu bukan penentu, hanya Tuhan yang menentukan. Usaha keras hanya jalan untuk merayu, memohon, agar Dia berbelas kasihan mengabulkan doa kita.
Maka ingatlah, jangan pernah sesaat pun membanggakan diri apalagi menyombongkan diri, karena semuanya tergantung pada-Nya. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan Allah kita dan hormatilah orang-orang yang dikirimkan-Nya untuk menolong kita.
Hiduplah dalam kerendahan hati; tertawalah bersama orang yang bersukacita dan menangislah bersama orang yang berdukacita. Tetapi saat engkau sendiri, bersukacitalah senantiasa karena Tuhan melayakkan dan menginginkan kita bersukacita.
Nikmatilah hidup tanpa melanggar hukum-Nya, kecaplah kebaikan-Nya tanpa mengganggu orang lain. “Kalau itu tergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”. Aturlah lakumu dan mintalah hikmat pada-Nya sepanjang waktu, agar engkau selamat dan orang-orang di sekitarmu menyukaimu, minimal mereka tidak mengganggumu.
Dari pengalaman hidupku, kegagalan dan kecemasan yang kualami timbul dari ketidaktaatan dan pelanggaranku pada perintah Tuhan, serta mengandalkan pikiranku sendiri. Jangan ulangi kesalahanku, agar hidupmu selalu berlimpah damai dan sukacita. Dalam hidup, ketidaksesuaian harapan dengan kenyataan akan tetap ada, tapi bukan karena pelanggaranmu atau karena lakumu yang tak berhikmat. Oleh karenanya, dalam badai pun engkau tetap akan bisa tersenyum.
Inilah kebahagiaanku dengan mamakmu, ketika menyaksikan anak-anaknya hidup dalam takut akan Tuhan.
NS / Pak Hizkia